bijak dan cermat selamat hari raya idul fitri sumsel maju
Sumsel  

Gerak Cepat Pemkot Palembang, 11 Titik Banjir Masuk Penanganan Prioritas

Avatar photo
Wali Kota Palembang Ratu Dewa Meninjau Sejumlah Ruas Wilayah Terendam Banjir.

PALEMBANG – Pemerintah Kota Palembang mempercepat langkah penanggulangan banjir dengan menetapkan 11 titik rawan genangan sebagai prioritas utama.

Upaya ini dipimpin langsung oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU PR) sebagai tindak lanjut instruksi Wali Kota agar penanganan dilakukan secara cepat, terukur, dan berkelanjutan.

Kepala Dinas PU PR Kota Palembang, Yudha, menjelaskan bahwa persoalan banjir di Palembang bersifat multidimensi.

Selain disebabkan oleh sedimentasi dan penumpukan sampah yang mempersempit saluran, kondisi ini juga dipengaruhi faktor eksternal seperti pasang surut Sungai Musi dan intensitas curah hujan yang tinggi.

“Karakteristik banjir di Palembang memang kompleks. Ada faktor internal seperti kapasitas drainase yang menurun akibat sedimentasi dan sampah, serta faktor eksternal berupa pasang Sungai Musi dan hujan dengan intensitas tinggi,” ujar Yudha, Jumat (23/4/2026).

Sebagai respons cepat, tim PU PR telah melakukan normalisasi pada saluran-saluran yang mengalami penyumbatan.

Dari 11 titik prioritas, lima di antaranya berhasil ditangani. Pengerjaan dilakukan secara intensif, termasuk pada malam hari, dengan menyiagakan petugas di lokasi rawan guna memastikan respons cepat saat genangan mulai terjadi.

“Kami menerapkan pola kerja responsif. Begitu air mulai naik, tim langsung bergerak di lapangan,” Yudha menerangkan.

Salah satu langkah krusial yang telah dilakukan adalah perbaikan penahan air di Kolam Retensi Simpang Polda yang sebelumnya jebol saat banjir pada 21 April 2026.

Kerusakan tersebut sempat memperparah genangan di kawasan Jalan Demang Lebar Daun, namun kini telah ditangani.

“Perbaikan sudah kami lakukan sehingga kapasitas pengendalian air kembali optimal,” tambah Yudha.

Dalam pelaksanaannya, Pemkot Palembang tidak bekerja sendiri. Kolaborasi lintas instansi menjadi kunci percepatan penanganan, termasuk dengan Balai Jalan Nasional melalui normalisasi crossdrain di kawasan cekungan depan DA Km 7.

Di lokasi ini, selain sedimentasi dan sampah, keberadaan utilitas bawah tanah turut menghambat aliran air.

Dukungan juga datang dari Dinas PU Pengairan Provinsi Sumatera Selatan yang menyiapkan mobil pompa di Simpang Polda untuk membantu percepatan pengurangan genangan.

Selain itu, keterlibatan lintas sektor seperti Kepolisian, Dinas Perhubungan, Satpol PP, BPBD, serta aparat kecamatan dan kelurahan memperkuat koordinasi saat penanganan di lapangan.

Untuk solusi jangka panjang, Pemkot Palembang menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII melalui program Pengendalian Banjir Sistem Sungai Bendung.

Program ini mencakup normalisasi dan penguatan tebing Sungai Bendung sepanjang ±5 km, serta penataan anak sungai seperti Parit, Seduduk, dan IBA.

Selain itu, akan dilakukan normalisasi kolam retensi di Talang Aman, Polda, Seduduk Putih, dan IBA, serta pengadaan dan pemasangan pompa di sejumlah titik strategis.

“Program ini direncanakan mulai berjalan pada awal Juni 2026 dan ditargetkan rampung pada akhir 2027,” kata Yudha.

Ia menegaskan, kombinasi antara langkah cepat di lapangan dan strategi jangka panjang diharapkan mampu menekan risiko banjir secara signifikan di Kota Palembang.

“Dengan pendekatan terpadu—mulai dari normalisasi, pompanisasi, hingga penguatan sistem sungai—kami optimistis dampak banjir bisa diminimalkan sehingga aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu saat musim hujan,” ujar Yudha.

11 Titik Banjir Prioritas dan Permasalahannya

Berikut lokasi yang menjadi fokus penanganan beserta isu teknis utama:

1. Jl. Demang Lebar Daun (Simpang Polda) – UIGM

Penyempitan aliran pada crossdrain bawah flyover serta gangguan drainase di Jl. Basuki Rahmat dan sungai jembatan parit.

2. Jl. Basuki Rahmat (depan Bank Sinarmas)

Dipengaruhi langsung oleh pasang air Sungai Musi.

3. Jl. Kol. H. Burlian (Palimo, Siti Fatimah dan sekitarnya)

Sedimentasi tinggi dan penumpukan sampah di saluran.

4. Jl. Mayor Ruslan (Kolam IBA) – Bay Salim

Terjadi sedimentasi dan penyempitan aliran (bottleneck).

5. Jl. Demang Lebar Daun (RS Siti Khodijah dan sekitarnya).

Sedimentasi di outlet kolam retensi, pengaruh pasang sungai, serta bangunan di sempadan sungai.

6. Jl. Kapt. A. Rivai (Simpang 5) – Angkatan 45.

Kapasitas saluran tidak memadai, dimensi outlet kecil, serta utilitas dan crossdrain tidak berfungsi optimal.

7. Kambang Iwak Besak

Tingginya sedimentasi pada badan air.

8. Jl. Kol. H. Burlian (Damri).

Sedimentasi dan sampah pada crossdrain.

9. Jl. Kol. H. Burlian (Cekungan DA)

Penumpukan sedimen dan sampah pada saluran utama.

10. Jl. Asrama Haji

Penyempitan aliran di pintu masuk (bottleneck).

11. Jl. R.A. Rozak (Kumbang dan sekitarnya)

Tingginya sedimen yang mengurangi kapasitas drainase.

Tinggalkan Balasan