OKU Timur – Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten OKU Timur, Edward Ferdinant SH angkat bicara menanggapi insiden pengeroyokan yang menimpa dua jurnalis saat meliput aksi demonstrasi di depan Markas Polda Sumsel, Selasa (13/10/2026).
Dua korban diketahui bernama Rachmad Kurniawan dari Tribun Sumsel dan Mulyadi dari PalTV.
Dalam pernyataan tegasnya, Edward Ferdinant mengutuk keras tindakan kekerasan tersebut dan mendesak aparat kepolisian bergerak cepat.
“Kami dari SMSI OKU Timur mengutuk keras penganiayaan terhadap wartawan dan minta pihak polisi mengusut dan menangkap pelakunyo,” ucap Edward yang akrab disapa Awang.
Ditambahkan Awang, tindakan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas jurnalistik tidak dapat ditoleransi.
Ia menilai tindakan tersebut tidak hanya melanggar Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, tetapi juga mencederai kebebasan pers yang dijamin oleh hukum.
“Karena itula SMSI Sumsel dan SMSI Kabupaten/Kota se Sumsel mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini secara profesional dan transparan, serta menangkap seluruh pelaku yang terlibat,” tegasnya.
Disamping itu, SMSI OKU Timur juga meminta aparat keamanan untuk memberikan perlindungan kepada jurnalis yang sedang bertugas, baik dalam situasi kondusif maupun saat terjadi kericuhan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan kasus pengeroyokan tersebut.
SMSI Sumsel menyatakan akan terus mengawal kasus ini hingga pelaku ditangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku.
Kronologi Kejadian
Insiden bermula ketika kedua jurnalis sedang menjalankan tugas peliputan aksi demonstrasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Simpang Flyover Polda Sumsel. Situasi memanas ketika terjadi perselisihan antara dua kelompok massa yang berada di lokasi yang berdekatan.
Rachmad Kurniawan yang tengah melakukan siaran langsung tiba-tiba dituduh hendak menusuk seseorang. Tuduhan itu memicu aksi pengeroyokan oleh lebih dari lima orang tak dikenal. Mulyadi yang berusaha melerai justru ikut menjadi sasaran kekerasan.
Akibat kejadian tersebut, kedua jurnalis mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Palembang untuk perawatan medis. Selain kekerasan fisik, para pelaku juga dilaporkan sempat merampas telepon seluler korban.












