PALEMBANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan memprediksi musim hujan 2026/2027 di Sumatera Selatan (Sumsel) mulai berlangsung secara bertahap pada akhir Oktober 2026. Sebagian besar wilayah Sumsel diperkirakan memasuki musim hujan pada November 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyampaikan bahwa Kabupaten Empat Lawang diperkirakan menjadi wilayah yang lebih awal memasuki musim hujan. Sementara itu, wilayah selatan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) diprediksi baru memasuki musim hujan pada awal Desember 2026.
Berdasarkan materi prediksi musim hujan BMKG yang disusun pada 14 Oktober 2026, puncak musim hujan di Sumsel diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Sebagian besar wilayah diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026.
Durasi musim hujan diperkirakan berkisar antara 16 hingga 27 dasarian, yakni periode sepuluh harian. Sebagian besar wilayah Sumsel diprediksi mengalami musim hujan selama 19 hingga 24 dasarian.
BMKG mencatat bahwa dinamika atmosfer turut memengaruhi kondisi musim hujan mendatang. El Niño pada periode Juli–Agustus–September 2026 berada dalam kategori sangat kuat, dengan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 sebesar +2,63. Kondisi tersebut diprediksi bertahan hingga awal 2027.
Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase netral dengan indeks +0,423, tetapi berpeluang memasuki fase positif hingga akhir 2026. Angin timuran atau Monsun Australia masih mendominasi, sedangkan Monsun Asia diperkirakan mulai memasuki wilayah Indonesia pada November 2026.
Dari sisi sifat hujan, sebagian besar wilayah Sumsel diprediksi mengalami curah hujan dalam kategori normal. Adapun sifat hujan di atas normal diperkirakan terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara, Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, wilayah barat Kabupaten Musi Banyuasin, sebagian besar Kabupaten Empat Lawang, bagian selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), serta Kabupaten OKU Selatan.
Sebelumnya, musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Sumsel dimulai pada waktu yang sama hingga lebih cepat satu sampai tiga dasarian dibandingkan dengan kondisi normal. Musim kemarau mulai berlangsung pada pertengahan Mei 2026 di Palembang dan sekitarnya, sedangkan sebagian besar wilayah Sumsel memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Sifat hujan selama musim kemarau tersebut tercatat berada dalam kategori di bawah normal.
Menghadapi musim hujan mendatang, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman dengan siklus tanam lebih pendek, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman. Di sektor sumber daya air, optimalisasi tampungan air, pengelolaan drainase, dan konservasi air juga perlu dilakukan.
Di sektor kesehatan, pemberantasan sarang nyamuk dan kesiapan fasilitas kesehatan perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi potensi peningkatan kasus demam berdarah serta penyakit yang berkaitan dengan genangan air dan banjir. Sementara itu, sektor energi disarankan mengatur aliran masuk air (inflow), elevasi waduk, dan pelepasan air secara proporsional guna mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
BMKG juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada September–Oktober, seiring dengan mundurnya awal musim hujan. Memasuki periode awal hingga puncak musim hujan, optimalisasi drainase dan kesiapan evakuasi diperlukan untuk mengantisipasi potensi banjir dan tanah longsor.
Prediksi musim hujan 2026/2027 ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan berbagai sektor dalam menyusun perencanaan serta menyiapkan langkah-langkah antisipasi sesuai dengan kondisi iklim di Sumsel.












