sumsel
Beranda Sport Dugaan Pelanggaran Persyaratan Pemain Warnai Turnamen Futsal SD/MI di Palembang, Satu MI...

Dugaan Pelanggaran Persyaratan Pemain Warnai Turnamen Futsal SD/MI di Palembang, Satu MI di Seberang Ulu Jadi Sorotan

Turnamen futsal tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang digelar di GOR Dempo, Jakabaring, Palembang.

Palembang — Turnamen futsal tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang digelar di GOR Dempo, Jakabaring, Palembang, pada 25 Agustus 2026, mendapat sorotan setelah muncul dugaan pelanggaran persyaratan pemain yang melibatkan salah satu tim peserta.

Turnamen yang sejatinya menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan olahraga sekaligus menanamkan nilai sportivitas, disiplin, kejujuran, dan kebersamaan tersebut diwarnai keberatan dari sejumlah pihak terkait keabsahan salah satu pemain.

Tim yang dipersoalkan diketahui berasal dari salah satu MI swasta di kawasan Seberang Ulu, Palembang.

Pemain tersebut diduga tidak memenuhi ketentuan atau administrasi sebagaimana persyaratan yang telah ditetapkan dalam turnamen.

Informasi mengenai dugaan tersebut kemudian disampaikan kepada panitia. Sejumlah pelatih atau tim peserta disebut telah mempertanyakan keabsahan pemain yang diturunkan.

Pihak tim yang dipersoalkan, berdasarkan informasi yang diperoleh, telah memberikan bantahan terhadap keberatan tersebut.

Panitia kemudian melakukan konfirmasi di lokasi pertandingan. Adi Padang, selaku panitia pelaksana turnamen, mengatakan pihaknya telah meminta pelatih tim yang dipersoalkan untuk memberikan klarifikasi dan dokumen pendukung mengenai status pemain tersebut.

“Sudah kami konfirmasi di lapangan terhadap anak dari tim yang tidak memenuhi syarat untuk ikut. Namun, dia menyatakan masih kelas 4,” ujar Adi.

Menurut Adi, panitia kemudian meminta dokumen asli sebagai bukti untuk memastikan keterangan tersebut.

Namun, dokumen yang diminta belum dapat ditunjukkan oleh pihak tim pada saat pertandingan berlangsung. Meskipun kepastian kecurangan sudah dapat dipastikan benar adanya.

“Rapot asli di rumah, sementara orang tua pemain tersebut berada di GOR ikut serta di lokasi turnamen. Di rumah tidak ada orang,” kata Adi.

Adi menjelaskan, kondisi tersebut membuat panitia menghadapi keterbatasan waktu untuk melakukan pemeriksaan dokumen secara langsung.

“Jika kami melakukan pemberhentian permainan sementara guna menunggu data rapor asli, sudah tidak bisa karena waktu sudah sangat terdesak dengan sewa GOR yang kami gunakan untuk turnamen,” ujarnya.

Sementara wali dari tim lain yang merasa dirugikan atas kecurangan tersebut belum juga menerima kepastian keapsahan dokumen.

Dugaan pelanggaran administrasi dalam kompetisi olahraga usia sekolah perlu ditangani secara hati-hati dan transparan.

Verifikasi terhadap data peserta menjadi penting agar seluruh tim mendapatkan perlakuan yang sama sesuai regulasi turnamen.

Apabila hasil pemeriksaan nantinya menemukan adanya pelanggaran terhadap persyaratan pemain, panitia dapat mengambil keputusan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Kami sudah berdiskusi di group WhatsApp untuk meminta permintaan maafan dan kejelasan dari pelatih tersebut, namun tidak juga di respon,” jelasnya.

Hingga berita ini disusun, pihak sekolah maupun tim yang dipersoalkan masih belum menyampaikan klarifikasi dan bukti administrasi terkait status pemain tersebut.

Meskipun sudah banyak pihak yang menyakinkan jika kecurangan tersebut terjadi yakni 3 pemain yang diturunkan tidak sesuai kualifikasi.

Artikel SebelumnyaPertamina Patra Niaga Raih Impact Commitment Awards di Investortrust CSR Awards 2026, Hadir dalam Wilayah Bencana Sumatera dan NTT
Artikel SelanjutnyaUji Kompetensi Jabatan Fungsional Penata Pertanahan Ahli Pertama di Kanwil BPN Sumsel